Rabu, 19 September 2012

My Nephew

Welcome to the new life and environment

Welcome and congratulations on the opening of the gate half-life. Congratulations and welcome to join the rush. Starting this year and this month I have started to enter the gates of the university. It was the time passed quickly. Yesterday I think I was still in high school and now suddenly has become college students.
The days when orientation.

Rabu, 21 Desember 2011

Dove si trova la felicità?, a naruto fanfic - FanFiction.Net

Dove si trova la felicità?, a naruto fanfic - FanFiction.Net

Kado buat Amel. Mungkin sederhana, tapi semoga dia menyukainya. Terima kasih sudah mau menjadi teman, adik, uke untuk saya. ^^ Semoga di lain waktu kita bisa ketemu ya. :)

Sabtu, 05 November 2011

Life




Life is short. Use your life as possible. Live with a relaxed but serious. Search and find the meaning of life; to what you were born, to whom you live, and how did you enjoy the process of life today. Because life is a process.

Kamis, 03 November 2011

Dew


The rain subsided...


Leaving a trail of dew on the leaves.




Drop by drop, the rain water that settles on the foliage becomes dew.




Then, slowly. Drops of water falling leaves traces on the foliage, and gently stroked the ground we walk on.


I just wanted to say I love it when it rains and subsides.

Rabu, 02 November 2011

Puddles Of Water On The Rocks

When the rain caressing the earth, flowing water droplets to create impressions on what he encountered. When the rain stopped, I was interested in the stones of the stagnant water of the rain. Shiny with a coolness that brought the rain drops.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Rain During The Spring

Naruto doesn't belong to me. I just borrowed it.
SasuSaku Fiction.
Semi-Canon with AT.
.
.
.


Drass

Drass

Drass

Tetes-tetes air itu masih betah membasahi setiap tempat yang berada di bawahnya. Langit mendung menghalangi pencahayaan alami dari sang rembulan.

Clak

Satu tetes air hujan itu jatuh ke atas telapak tangan milik seorang perempuan berambut merah muda—sang kunoichi.

Clak

Clak

Clak

Tetes-tetes air hujan itu jatuh kembali, tak hanya membasahi telapak tangannya tapi seluruh badannya yang memang telah basah sedari tadi. Ya, karena ia masih tetap berada di sana, di tempatnya yang sama seperti tiga puluh menit yang lalu, duduk disebuah bangku yang menjadi tempat terakhir kali ia bertemu dengan seseorang yang meninggalkannya malam itu. Viridian-nya menatap telapak tangannya yang dipenuhi tetesan air hujan yang jatuh. Satu tetes air hujan itu jatuh ke tanah dan disusul dengan yang lainnya. Terus-menerus seperti itu.

Tak ia hiraukan badannya yang telah menggigil kedinginan. Ia masih tetap di sana. Duduk menunggunya.
—Menunggu seseorang  yang ia tahu tak akan datang.

•••

•••

Viridian itu tampak goyah saat berhadapan dengan sang obsidian. Dalam balutan musim semi mereka berhadapan satu sama lain. Hal yang tak pernah sang kunoichi duga. Ingatan saat terakhir kali mereka bertemu membuat dadanya merasakan sesak.

Dengan perlahan ia mencengkeram dadanya. Matanya tak lepas menatap manik obsidian, sesaat sang angin melewati mereka dan menerbangkan helaian-helaian rambut merah muda dan dark blue.

“Mengapa kau ada di sini?” Ia membuka suara yang tedengar serak di telinganya.

Sang pemilik obsidian tak membuka suara, hanya menatap sang viridian.

Sang kunoichi—Haruno Sakura memejamkan matanya sejenak, menahan terpaan berbagai emosi yang melandanya. Ia tak begitu mengerti, karena memang ia tak mengerti. Mengapa ia selalu seperti ini? Terlihat lemah di depannya. Di depan seorang Uchiha Sasuke.

“Mengapa? Mengapa—Sasuke?” tanyanya kembali tanpa mengeraskan suara.

Viridian itu membuka dan menatap sang obsidian. Uchiha Sasuke hanya diam tak bersuara. Hanya menatap sang viridian yang kini mulai mengalirkan tetes-tetes air mata yang jatuh dan mengalir di pipi Haruno Sakura.

•••

Ia bergerak dengan cepat dan kini berada di belakang sang kunoichi berambut merah muda itu. Dapat ia dengar suara napas yang tertahan dari Sakura. Ia mengulurkan kedua lengannya dan memeluk pinggang sang kunoichi. Aroma cherry menyambut indera penciumannya. Obsidian miliknya menatap ke arah langit dengan awan yang bergumul dan mulai mendung.

“Jangan menangis!” ucapnya membuka suara.

Sakura yang berada dalam pelukkannya masih diam terpaku,  terlalu terkejut dengan tindakan Sasuke.
Sasuke tak tahu efek dari tindakannya ini. Membuat luka yang menyayat hati Sakura menjadi tambah parah.

“Lepaskan!”

•••

Bersambung... Hahaha....

Ini lagi gaje-gajean, habis gak ada inspirasi. :( Gaje banget pastinya.