Naruto doesn't belong to me. I just borrowed it.
SasuSaku Fiction.
Semi-Canon with AT..
.
.
Drass
Drass
Drass
Tetes-tetes air itu masih betah membasahi setiap tempat yang berada
di bawahnya. Langit mendung menghalangi pencahayaan alami dari sang
rembulan.
Clak
Satu tetes air hujan itu jatuh ke atas telapak tangan milik seorang perempuan berambut merah muda—sang kunoichi.
Clak
Clak
Clak
Tetes-tetes air hujan itu jatuh kembali, tak hanya membasahi telapak
tangannya tapi seluruh badannya yang memang telah basah sedari tadi. Ya,
karena ia masih tetap berada di sana, di tempatnya yang sama seperti
tiga puluh menit yang lalu, duduk disebuah bangku yang menjadi tempat
terakhir kali ia bertemu dengan seseorang yang meninggalkannya malam
itu. Viridian-nya menatap telapak tangannya yang dipenuhi
tetesan air hujan yang jatuh. Satu tetes air hujan itu jatuh ke tanah
dan disusul dengan yang lainnya. Terus-menerus seperti itu.
Tak ia hiraukan badannya yang telah menggigil kedinginan. Ia masih tetap di sana. Duduk menunggunya.
—Menunggu seseorang yang ia tahu tak akan datang.
•••
•••
Viridian itu tampak goyah saat berhadapan dengan sang obsidian. Dalam balutan musim semi mereka berhadapan satu sama lain. Hal yang tak pernah sang kunoichi duga. Ingatan saat terakhir kali mereka bertemu membuat dadanya merasakan sesak.
Dengan perlahan ia mencengkeram dadanya. Matanya tak lepas menatap manik obsidian, sesaat sang angin melewati mereka dan menerbangkan helaian-helaian rambut merah muda dan dark blue.
“Mengapa kau ada di sini?” Ia membuka suara yang tedengar serak di telinganya.
Sang pemilik obsidian tak membuka suara, hanya menatap sang viridian.
Sang kunoichi—Haruno Sakura memejamkan matanya sejenak,
menahan terpaan berbagai emosi yang melandanya. Ia tak begitu mengerti,
karena memang ia tak mengerti. Mengapa ia selalu seperti ini? Terlihat
lemah di depannya. Di depan seorang Uchiha Sasuke.
“Mengapa? Mengapa—Sasuke?” tanyanya kembali tanpa mengeraskan suara.
Viridian itu membuka dan menatap sang obsidian. Uchiha Sasuke hanya diam tak bersuara. Hanya menatap sang viridian yang kini mulai mengalirkan tetes-tetes air mata yang jatuh dan mengalir di pipi Haruno Sakura.
•••
Ia bergerak dengan cepat dan kini berada di belakang sang kunoichi
berambut merah muda itu. Dapat ia dengar suara napas yang tertahan dari
Sakura. Ia mengulurkan kedua lengannya dan memeluk pinggang sang kunoichi. Aroma cherry menyambut indera penciumannya. Obsidian miliknya menatap ke arah langit dengan awan yang bergumul dan mulai mendung.
“Jangan menangis!” ucapnya membuka suara.
Sakura yang berada dalam pelukkannya masih diam terpaku, terlalu terkejut dengan tindakan Sasuke.
Sasuke tak tahu efek dari tindakannya ini. Membuat luka yang menyayat hati Sakura menjadi tambah parah.
“Lepaskan!”
•••
Bersambung... Hahaha....
Ini lagi gaje-gajean, habis gak ada inspirasi. :( Gaje banget pastinya.



