Sabtu, 22 Oktober 2011

Rain During The Spring

Naruto doesn't belong to me. I just borrowed it.
SasuSaku Fiction.
Semi-Canon with AT.
.
.
.


Drass

Drass

Drass

Tetes-tetes air itu masih betah membasahi setiap tempat yang berada di bawahnya. Langit mendung menghalangi pencahayaan alami dari sang rembulan.

Clak

Satu tetes air hujan itu jatuh ke atas telapak tangan milik seorang perempuan berambut merah muda—sang kunoichi.

Clak

Clak

Clak

Tetes-tetes air hujan itu jatuh kembali, tak hanya membasahi telapak tangannya tapi seluruh badannya yang memang telah basah sedari tadi. Ya, karena ia masih tetap berada di sana, di tempatnya yang sama seperti tiga puluh menit yang lalu, duduk disebuah bangku yang menjadi tempat terakhir kali ia bertemu dengan seseorang yang meninggalkannya malam itu. Viridian-nya menatap telapak tangannya yang dipenuhi tetesan air hujan yang jatuh. Satu tetes air hujan itu jatuh ke tanah dan disusul dengan yang lainnya. Terus-menerus seperti itu.

Tak ia hiraukan badannya yang telah menggigil kedinginan. Ia masih tetap di sana. Duduk menunggunya.
—Menunggu seseorang  yang ia tahu tak akan datang.

•••

•••

Viridian itu tampak goyah saat berhadapan dengan sang obsidian. Dalam balutan musim semi mereka berhadapan satu sama lain. Hal yang tak pernah sang kunoichi duga. Ingatan saat terakhir kali mereka bertemu membuat dadanya merasakan sesak.

Dengan perlahan ia mencengkeram dadanya. Matanya tak lepas menatap manik obsidian, sesaat sang angin melewati mereka dan menerbangkan helaian-helaian rambut merah muda dan dark blue.

“Mengapa kau ada di sini?” Ia membuka suara yang tedengar serak di telinganya.

Sang pemilik obsidian tak membuka suara, hanya menatap sang viridian.

Sang kunoichi—Haruno Sakura memejamkan matanya sejenak, menahan terpaan berbagai emosi yang melandanya. Ia tak begitu mengerti, karena memang ia tak mengerti. Mengapa ia selalu seperti ini? Terlihat lemah di depannya. Di depan seorang Uchiha Sasuke.

“Mengapa? Mengapa—Sasuke?” tanyanya kembali tanpa mengeraskan suara.

Viridian itu membuka dan menatap sang obsidian. Uchiha Sasuke hanya diam tak bersuara. Hanya menatap sang viridian yang kini mulai mengalirkan tetes-tetes air mata yang jatuh dan mengalir di pipi Haruno Sakura.

•••

Ia bergerak dengan cepat dan kini berada di belakang sang kunoichi berambut merah muda itu. Dapat ia dengar suara napas yang tertahan dari Sakura. Ia mengulurkan kedua lengannya dan memeluk pinggang sang kunoichi. Aroma cherry menyambut indera penciumannya. Obsidian miliknya menatap ke arah langit dengan awan yang bergumul dan mulai mendung.

“Jangan menangis!” ucapnya membuka suara.

Sakura yang berada dalam pelukkannya masih diam terpaku,  terlalu terkejut dengan tindakan Sasuke.
Sasuke tak tahu efek dari tindakannya ini. Membuat luka yang menyayat hati Sakura menjadi tambah parah.

“Lepaskan!”

•••

Bersambung... Hahaha....

Ini lagi gaje-gajean, habis gak ada inspirasi. :( Gaje banget pastinya.

Rabu, 19 Oktober 2011

Liga Ganesha (XI Social 1)




Ini sebelum kita latihan bola voli. ^^ Jadi, foto-foto dulu soalnya anak-anak yang lain belum datang. Hahaha...
-17 Maret 2011-

Holidays Last Year


I don't know what to tell you about last year's holiday. Clearly, my friends and I were happy. Why place the background there? Okay, don't ask it. ^ ^ There was a funny incident, but I'm confused where to start. Um ... Importantly, use your vacation time to create beautiful moment with your friends.